Minggu, 25 Januari 2015

Buah Hati



AYAH… sudah mencoba ngobrol dengan anak- 
anak? 
Alhamdulillahjika sudah dan teruskan hal itu 
sesering mungkin sambil kita belajar terus tentang 
seperti apa dialog produktif yang disampaikan oleh 
Al-Qur’an. 
Dalam tulisan ilmiah di Ummul Quro menyebutkan 
ada 17 tema dialog antara orangtua dengan 
anaknya dalam al-Qur’an. 
Perhatikanlah angka 17. Bukankah itu adalah 
bilangan rakaat shalat kita yang wajib sehari 
semalam? Benar! 
Kini, mari kita gali hikmah di balik kesamaan angka 
tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam al- 
Qur’an yang penuh mukjizat dan tidak ada yang 
kebetulan. 
Menarik sekali penelitian yang disampaikan oleh 
pakar mukjizat angka dalam al-Qur’an dari Suriah, 
Ir. Abd Daeem al-Kaheel. Dalam webnya, 
kaheel7.com, dia mengungkapkan beberapa hal 
tentang angka 17 dalam al-Qur’an. 
Untuk para ayah, mohon ambil mushaf Al- 
Qur’annya. Bukalah dialog ayah terlengkap dan 
terpanjang dalam al-Qur’an, yaitu dialog Luqman 
dengan anaknya yang dicantumkan dari ayat 
13-19 dalam Surat Luqman (31). Kita akan 
menjumpai salah satu mukjizat angka dalam al- 
Qur’an. 
Bicara tentang angka 17, bukalah ayat yang ke-17. 
Yang artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan 
suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan 
cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar 
dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa 
kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk 
hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” 
Nasehat Luqman tentang shalat adanya dalam ayat 
ke-17 ini. Shalat kita yang wajib sehari semalam 
berjumlah 17 rakaat sama dengan angka ayat ini. 
Jika kata dalam ayat ini dihitung pun berjumlah 17. 
Lebih dahsyat lagi, surat Luqman ini adalah surat 
ke-17 yang dimulai dengan huruf muqotho’ah 
(seperti: alif lam mim, alif lam ro’, thoha, dan 
sebagainya). Subhanallah… 
Sebelum kita ambil pelajaran, mari kita lihat fakta 
ayat yang lain. Surat Al-baqarah ; 17, yang artinya : 
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang 
menyalakan api, maka setelah api itu menerangi 
sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang 
menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam 
kegelapan, tidak dapat melihat.” 
Ayat ini, jika dihitung jumlah katanya juga ada 17 
kata. Dan ayat ini membicarakan tentang keadaan 
orang-orang munafik yang hilang cahaya 
hidupnya, selalu gelap dalam kejahiliyahan serta 
tidak dapat melihat petunjuk. 
Shalat berhubungan erat dengan pembahasan 
tentang kemunafikan. Karena salah satu ciri orang 
munafik adalah malas saat berdiri shalat. 
Demikian juga dengan shalat Asar, Isya’ dan 
Shubuh yang menjadi bukti seseorang munafik atau 
bukan. Setelah sifat munafik itu melekat, hidup pun 
menjadi pekat. 
Ayah, dialog dengan anak adalah sebuah 
keharusan. Jika tidak mau, gelap lah rumah kita. 
Gulita jalannya generasi ini ke depan. Mereka perlu 
lentera nasehat para ayah… 
Kemudian, kita bahas sekarang pesan shalat untuk 
dialog. Semua pembahasan di atas menunjukkan 
bahwa tugas dialog orangtua dengan anaknya, 
tugas sangat agung dan mulia. Seagung dan 
semulia shalat. Karena keduanya adalah dialog. 
Shalat adalah bentuk dialog kita dengan Allah. 
Sebagaimana yang disampaikan Nabi dalam hadits 
yang shahih tentang Surat al-Fatihah yang kita 
baca, sesungguhnya adalah dialog kita dengan 
Allah. Nah, dialog orangtua dengan anaknya 
adalah dialog terbaik yang ada di sesama manusia. 
Jika shalat adalah batas terakhir antara muslim 
dan kafir serta musyrik, maka begitulah pentingnya 
dialog sebagai batas paling minimal untuk sebuah 
generasi baik atau tidak. Jika orangtua 
meninggalkannya, maka bagaimana berharap lahir 
generasi baik dan hebat. 
Rasul meminta para orangtua untuk menyuruh 
anaknya shalat sejak sebelum baligh; yaitu usia 7 
tahun. Setelah pendidikan shalat itu berjalan 3 
tahun, maka diadakan evaluasi besar. Pada usia 10 
tahun, Nabi memerintahkan untuk orangtua 
memukul dengan pukulan pendidikan jika belum 
juga baik shalatnya. Ini semua untuk menghadapi 
usia baligh, saat seseorang sudah bertanggung 
jawab langsung secara pribadi di hadapan Allah 
ta’ala. Usia baligh di masa Nabi adalah 15 tahun 
bagi laki-laki. 
Maka, begitulah dialog kita dengan generasi 
penerus ini. Teruslah melakukan dialog itu. 
Bersabarlah dalam melakukan amal mulia tesebut. 
Seperti kesabaran menyuruh shalat selama 8 tahun 
(usia 7-15 tahun). Itu artinya, jika setiap kali shalat 
harus mengingatkan keluarganya untuk shalat 
maka perlu: 8 tahun x 365 hari x 5 waktu shalat = 
14.600 perintah dan peringatan. 
Dialog pun perlu kesabaran yang luar biasa. Dari 
mulai awal, hingga dialog itu menjadi bekal hidup 
anak-anak kita saat mereka memasuki usia baligh. 
Dalam shalat, diminta agar khusyu’. Sebuah rasa 
dan perenungan dari setiap kata yang diucapkan 
dalam shalat. Dengan demikian, khusyu’ 
memerlukan ilmu awal yaitu memahami setiap yang 
kita baca dalam shalat. 
Nah ayah, begitu juga dengan dialog. Perlu 
kekhusyu’an alias keseriusan dengan melibatkan 
hati dan rasa kita. Bukan sebuah formalitas kering. 
Kirimkan kata hati ayah pada setiap kata yang 
diucapkan. Kata hati itulah yang akan menghunjam 
ke dalam hati anak-anak. Di sinilah pentingnya ilmu 
pada hal yang ayah dialogkan agar hasilnya 
maksimal. 
Bagi anak yang telah memasuki usia 10 tahun dan 
belum baik shalatnya, diperintahkan oleh Nabi agar 
orangtua memukul dengan pukulan pendidikan. 
Bagi orang yang telah baligh dan meninggalkan 
shalat dengan sengaja, maka dalam hukum Islam 
negara harus menangkap orang tersebut dan 
menjebloskannya dalam penjara selama 3 hari 
untuk diberi kesempatan bertaubat. Jika tetap tidak 
mau melaksanakan shalat, maka dihukum mati! 
Nah loh, gimana nih para ayah. Bagaimana kalau 
dialog mengambil pelajaran shalat. Bagi para ayah 
yang sengaja meninggalkan dialog dengan 
generasinya, memang tidak akan dipenjara apalagi 
dibunuh. Tetapi, pasti ayah akan mendapatkan 
hukuman berat dengan kegagalan generasi. Saat 
usia ayah telah senja, tanaman yang ayah tanam 
ternyata penuh ulat. Tak tumbuh dengan baik. 
Apalagi berbuah. Padahal tulang telah rapuh, 
rambut pun telah putih. Sesal selalu datang 
terlambat. Tiada arti sebuah penyesalan yang tiada 
pernah kembali. 
Ayah, sebelum mendapatkan hukuman, sebelum 
menyesal nanti, lakukanlah dialog secara terus 
menerus dengan sang buah hati. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar